Single Blog Title

This is a single blog caption
23 Mei 2026

Teknik Metalurgi ITB Gelar Simposium Internasional Indonesia-India-Australia tentang Hidrogen Metalurgi

/
Posted By

Program Studi Teknik Metalurgi, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM), Institut Teknologi Bandung (ITB), menyelenggarakan Indonesia-India-Australia Symposium on Frontiers in Hydrogen Metallurgy 2026 pada Kamis, 21 Mei 2026, di Gedung CRCS, ITB Kampus Ganesha, Bandung. Kegiatan ini menjadi forum ilmiah internasional yang mempertemukan akademisi, peneliti, mahasiswa, dan mitra industri untuk membahas perkembangan metalurgi berbasis hidrogen dalam mendukung dekarbonisasi industri.

Simposium mengangkat tema Advancing Hydrogen-Based Metallurgy Technologies for a Sustainable Future. Secara umum, topik yang dibahas mencakup pemanfaatan hidrogen dalam proses ekstraksi dan pemurnian logam, pengembangan teknologi reduksi berbasis hidrogen, hydrogen plasma metallurgy, serta arah pengembangan proses metalurgi yang lebih berkelanjutan.

Dalam pelaksanaannya, simposium menghadirkan pembicara dari Indonesia, India, dan Australia. Para narasumber berasal dari Institut Teknologi Bandung, Indian Institute of Technology Hyderabad, Indian Institute of Technology Dhanbad, National Institute of Technology Durgapur, Kazi Nazrul University, Swinburne University of Technology, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, dan institusi lainnya yang memiliki perhatian pada pengembangan teknologi metalurgi rendah emisi.

Rangkaian simposium diawali dengan sesi pembukaan dan sambutan dari panitia penyelenggara. Pada kesempatan tersebut, D.Sc. (Tech.) Imam Santoso, S.T., M.Phil., menekankan pentingnya pengembangan teknologi metalurgi berbasis hidrogen sebagai bagian dari transformasi menuju proses ekstraksi dan pemrosesan logam yang lebih bersih. Penekanan ini sejalan dengan tantangan global industri metalurgi yang masih sangat bergantung pada reduktor berbasis karbon dalam berbagai proses bersuhu tinggi.

Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan Sesi Pleno I yang membahas sejumlah topik mendasar terkait aplikasi hidrogen dan turunannya dalam proses metalurgi. Sesi ini menghadirkan Prof. Zulfiadi Zulhan (ITB), Dr. Ashok Kamaraj (Indian Institute of Technology Hyderabad), Bima Satriatama (Swinburne University of Technology), dan Fakhreza Abdul, Ph.D. (Institut Teknologi Sepuluh Nopember). Secara keseluruhan, Sesi Pleno I menyoroti peluang pemanfaatan hidrogen, plasma hidrogen, dan amonia dalam pengembangan proses metalurgi yang lebih efisien dan rendah emisi. Pembahasan pada sesi ini memperlihatkan bahwa penggantian reduktor konvensional berbasis karbon memerlukan pendekatan lintas-disiplin, baik dari sisi termodinamika proses, rekayasa reaktor, maupun kesiapan teknologi untuk aplikasi industri.

Kegiatan kemudian berlanjut ke Sesi Pleno II yang berfokus pada pengembangan teknologi reduksi dan pemurnian logam pada berbagai sistem material. Sesi ini menghadirkan Prof. Raj Kumar Dishwar (Indian Institute of Technology Dhanbad), Dian Mughni Fellicia (Swinburne University of Technology), Taufiq Hidayat, Ph.D. (ITB), dan Dr. Arup Kumar Mandal (National Institute of Technology Durgapur). Melalui sesi ini, simposium memperluas pembahasan dari reduksi bijih dan pemanfaatan plasma ke isu yang lebih spesifik, seperti ekstraksi logam dari limbah metalurgi, pemrosesan bijih nikel laterit tipe saprolit, dan pemurnian baja berkelanjutan. Fokus tersebut menunjukkan bahwa hidrogen tidak hanya dibahas dalam konteks besi dan baja, tetapi juga relevan untuk pengolahan material lain yang memiliki peran penting dalam rantai pasok industri modern.

Selanjutnya, Sesi Pleno III mengangkat topik yang berkaitan dengan material sekunder, reduksi oksida, dan arah pengembangan teknologi baja hijau. Sesi ini menghadirkan Made Giri Natha (Swinburne University of Technology), Shany Sofiah Fauth (ITB), dan Dr. Arghya Majumder (Kazi Nazrul University). Pembahasan pada sesi ketiga memberikan perspektif bahwa transisi menuju metalurgi rendah karbon juga berkaitan erat dengan pemanfaatan limbah proses, pengolahan oksida logam, dan kesiapan jalur teknologi untuk industri baja masa depan. Dengan demikian, simposium ini tidak hanya menampilkan perkembangan riset fundamental, tetapi juga menempatkan isu keberlanjutan, efisiensi sumber daya, dan dekarbonisasi industri sebagai benang merah utama seluruh sesi.

Secara keseluruhan, simposium ini menjadi wadah pertukaran gagasan dan hasil riset antara perguruan tinggi, peneliti, dan pelaku industri dari tiga negara. Bagi Program Studi Teknik Metalurgi ITB, penyelenggaraan kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat jejaring akademik internasional sekaligus mendorong diskusi ilmiah yang relevan dengan tantangan transisi energi dan pengembangan proses metalurgi beremisi lebih rendah.